konsep pembelajaran
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Belajar sebagai
karakteristik yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Belajar merupakan
aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya
melalui pelatihan-pelatihan dan pengalaman-pengalaman. Salah satu ciri dari
aktivitas belajar adalaha adanya perubahan tingkah laku.
Pandangan terhadap konsep pembelajaran terus
menerus mengalami perubahan dan perkembangan zaman, pembelajaran sama artinya
dengan kegiatan mengajar. Kegiatan mengajar dilakukan oleh guru untuk
menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Pembelajaran merupakan suatu sistem yang
terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang
lainnya.
Sekolah
merupakan suatu lembaga yang memiliki tujuan yang terarah. Oleh karena itu,
untuk mencapai tujuan tersebut kita harus mengetahui konsep belajar, konsep
pembelajaran serta komponen-komponen pembelajaran sebagai pelantara dan jalan
yang mempermudah dalam mewujudkan tujuan lembaga tersebut.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa itu konsep belajar?
2.
Apa itu konsep pembelajaran?
3.
Dan apa saja komponen-komponen pembelajaran?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui konsep belajar
2.
Mengetahui konsep pembelajaran
3.
Mengetahui komponen-komponen pembelajaran
BAB II
KONSEP DASAR PEMBELAJARAN
A.
Konsep Belajar
1.
Belajar sebagai Proses Perubahan Tingkah Laku
Pengertian belajar secara etimologi seperti dijelaskan dalam KBBI
ialah berusaha memperoleh kepandaian. Sedang secara terminologi belajar adalah
perubahan relatif permanen dalam prilaku sebagai hasil dari pengalaman atau
latihan yang diperkuat. Menurut Hilgard belajar itu adalah proses perubahan
melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan didalam labolatorium maupun
dalam lingkungan alamiah. Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar
adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan
munculnya perubahan prilaku. Proses belajar pada hakikatnya merupakan mental
yang tidak dapat lihat. Artinya, proses perubahan yang terjadi dalam diri
seseorang yang belajar tidak dapat kita saksikan. Belajar pada dasarnya adalah
suatu proses aktivitas mental sesorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya
sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat positif baik
perubahan dalam asfek pengetahuan, sikap, maupun psikomotorik.
2.
Bentuk dan Hasil Belajar Perbuatan Belajar
Menurut Gagne sebagai suatu proses ada delapan tipe perbuatan
belajar dari mulai perbuatan belajar yang sederhana sampai perbuatan belajar
yang kompleks.
a. Belajar signal
bentuk belajar ini paling sederhana, yaitu memberikan reaksi terhadap
perangsang.
b. Belajar
mereaksi perangsang melalui penguatan, yaitu memberkan reaksi yang
berulang-ulang manakala terjadi reinforcement atau penguatan.
c. Belajar
membentuk rangkaian, yaitu belajar menghubungkan gejala/faktor yang satu dengan
yang lain sehingga menjadi satu kesatuan (rangkaian) yang berarti.
d. Belajar
asosiasi verbal, yaitu memberikan reaksi dalam bentuk kata-kata, bahasa,
terhadap perangsang yang diterimanya.
e. Belajar
membedakan yang majemuk, yaitu memberikan reaksi yang berbeda terhadap
perangsang yang diterimanya.
f.
Belajar konsep, yaitu menempatkan objek menjadi suatu klasifikasi
tertentu.
g. Belajar kaidah
atau belajar prinsip, yaitu menghubung-hubungkan beberapa konsep.
h. Belajar
memecahkan masalah, yaitu menggabungkan beberapa kaidah atau prinsip untuk
memecahkan persoalan.
Selanjutnya yang berkenaan dengan hasil (dalam pengertiaan banyak
hubungannya dengan tujuan pengajaran), Gagne mengemukakan ada lima jenis atau
lima tipe, yakni :
a.
Belajar pengertian intelektual (kognitif)
Ada
tiga tipe yang termasuk kedalam belajar kemahiran intelektual, yaitu belajar
membedakan atau diskriminasi, belajar konsep, dan belajar kaidah.
b.
Belajar informasi verbal
Belajar
informasi verbal adalah belajar menyerap atau mendapatka, menyimpan dan
mengomunikasikan berbagai informasi dan dari berbagai sumber.
c.
Belajar mengatur kegiatan intelektual
Belajar
mengatur kegiatan intelektual adalah belajar untuk memecahkan masalah dengan
memenfaatkan konsep dan kaidah yang telah dimilikinya.
d.
Belajar sikap
Sikap
merupakan kesiapan dan kesediaan seseorang untuk menerima atau menolak suatu
objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu, apakah berarti atau tidak
baginya.
e.
Belajar keterampilan motorik
Belajar
keterampilan motorik berhubungan dengan kesanggupan atau kemampuan seseorang
dalam menggunakan gerakan anggota badan, segingga memiliki rangkaian urutan
gerakan yang teratur, luwes, tepat, cepat, dan lancar.
B.
Konsep Pembelajaran
1.
Landasan Konsep Pembelajaran
a.
Filsafat
Proses belajar pada dasarnya melibatkan upaya yang hakiki dalam membentuk
dan menyempurnakan kepribadian manusia dengan berbagai tuntutan dalam
kehidupannya. Secara filosofis belajar berarti mengingatkan kembali pda manusia
mengenai makna hidup yang bisa dilalui melalui proses meniru, memahami,
mengamati, merasakan, mengkaji, melakukan, dan meyakini akan segala sesuatu
kebenaran sehingga semuanya memberikan kemudahan dalam mencapai segala yang
dicita-citakan manusia. Harapan filosofis bahwa dengan belajar maka segala
kebenaran di alam semesta ini bisa dinikmati oleh manusia yang pada akhirnya
akan menyadari manusia bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan. Dengan
demikian filsafat apapun yang telah menjadi hasil pikir manusia maka kaitannya
dengan belajar, ibarat siklus bahwa dengan filsafat manusia bisa mempelajari
(belajar) tentang segala sesuatu, sebaliknya dengan aktivitas belajar maka
pemikiran-pemikiran tentang belajar terus berkembang dan banyak ditemukan
sehingga membawa pada warna inovasi ide dan pemikiran manusia sepanjang zaman.
b. Psikologi
Perilaku manusia berubah karena belajar, maka perilaku yang masih dicari
inilah dapat dikaitkan dengan kajian dari Ilmu Psikologi. Psikologi sebagai
ilmu yang mempelajari gejala kejiwaan yang akhirnya mempelajari produk dari
gejala kejiwaan ini dalam bentuk perilaku-perilaku yang nampak dan sangat
dibutuhkan dalam proses belajar. Diantara psikolog yang banyak dan memang masih
bertahan menjadi landasan pokok dalam dunia pendidikan dan pembelajaran
yaitu Psikologi Kognitif dan PsikologiBehavioristik.
Masih banyak aliran psikologi lainnya, namun kedua aliran psikologi ini sangat
dominan dalam menentukan arah aktivitas manusia dalam melakukan proses
pembelajaran.
c.
Soiologis
Manusia adalah makhluk individu dan sosial, maka melalui belajar individu
bisa mempelajari lawan bersosialisasi, teman hidup bersama dan akhirnya melalui
belajar manusia mampu membangun masyarakat sampai dengan negara dan bangsa.
Landasan sosiologis ini sangat penting dalam mengiringi perkembangan inovasi
pembelajaran yang banyak terimbas oleh perubahan zaman yang semakin hedonistik.
Maka pemahaman akan belajar yang ditinjau dari aspek sosiologis inilah yang
sangat dibutuhkan.
d.
Komunikasi
Pendidikan dan komunikasi ibarat sekali tiga uang yang satu memberikan
pemaknaan terhadap yang lainnya. Dalam kenyataannya proses belajar atau
pembelajaran akan menghasilkan suatu kondisi di mana individu dalam hal ini
siswa dan guru, siswa dengan siswa atau interaksi yang kompleks sekalipun pasti
akan ditemukan suatu proses komunikasi. Landasan komunikasi ini akan banyak
memberikan warna dalam bentuk pendekatan, model, metode dan strategi
pembelajaran, serta pola-pola inovasi pembelajaran. Proses inilah yang masih
berkembang saat ini di dunia riset yaitu bagaimana seorang guru mapu melakukan
variasi komunikasi dalam proses pembelajaran yang tentunya dengan memperhatikan
komponen pembelajaran lainnya khusunya peserta didik, dan model pembelajaran
yang digunakan.
2.
Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran hanya menerapkan kemampuan dan menggunakan sarana serta
mengikuti mekanisme yang telah diatur dengan baik dalam SAP. Proses
pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik akan mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Proses pembelajaran dapat melalui tatap muka di dalam ruang
kelas dan dapt melalui media elektronik sesuai dengan pengaturan di dalam SAP.
Proses pembelajaran melalui internet mendorong mahasiswa lebih aktif dalam
pembelajaran karena harus berkomunikasi secara maya dengan para dosen, dan
mahasiswa lain di samping mengembara di dalam dunia pengetahuan lain.
3.
Perkembangan Konsep Dasar Pembelajaran
Pembelajaran (Instruction) merupakan akumulasi dari konsep belajar
mengajar (Teaching) dan konsep belajar (Learning). Penekanannya
terletak pada perpaduan antara keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek
didik. Konsep tersebut dapat dipandang sebagai suatu sistem sehingga dalam
sistem belajar ini terdapat komponen-komponen siswa atau peserta didik, tujuan,
materi untuk mencapai tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau media yang
harus dipersiapkan. Menurut Davis (1974:30) bahwalearning system menyangkut
pengorganisasian dari perpaduan antara manusia, pengalaman belajar, fasilitas,
pemeliharaan atau pengontrolan, dan prosedur yang mengatur interaksi perilaku
pembelajaran untuk mencapai tujuan. Demikian halnya juga denganteaching
system, dimana komponen perencana mengajar, bahan ajar, tujuan, materi dan
metode, serta penilaian dan langkah mengajar akan berhubungan dengan aktivitas
belajar untuk mencapai tujuan.
Keterampilan mengorganisasi informasi ini merupakan dasar kelancaran proses
pembelajaran. Menurut Meier (2002:103) bahwa semua pembelajaran manusia pada
hakekatnya mempunyai empat unsur, yakni, Persiapan (preparation),
Penyampaian (presentation), Pelatihan (practice), Penampilan
Hasil (performance).
1.
Persiapan (Preparation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk
belajar. Tanpa itu, pembelajaran akan lambat dan bahkan dapat berhenti sama
sekali. Persiapan pembelajaran itu seperti mempersiapkan tanah untuk ditanami
benih. Jika dilakukan dengan benar, niscaya menciptakan kondisi yang baik untuk
pertumbuhan yang sehat.
Berdasarkan hal diatas, maka tujuan tahap persiapan adalah untuk
menimbulkan minat peserta belajar, memberi mereka perasaan positif mengenai pengalaman
belajar yang akan datang dan menempatkannya dalam situasi optimal untuk
belajar.hal tersebut dapat dilakukan dengan memberi sugesti positif, memberikan
pernyataan yang memberi manfaat, memberikan tujuan yang jelas dan bermakna.
Tahap ini juga bertujuan membangkitkan rasa ingin tahu, menciptakan lingkungan
fisik, emosional, sosial yang positif. Banyak orang mempunyai perasaan negatif
tentang belajar. Jika mereka tidak menggantikan sugesti negatif ini dengan yang
positif, maka pembelajaran mereka akan terhalang.
Sugesti, baik positif maupun negatif, akan tercipta oleh lingkungan belajar
itu sendiri. Jika lingkungan fisik mengilhami perasaan negatif dan mengingatkan
orang pada pengalaman yang tidak manusiawi, maka lingkungan itu akan memberi
pengaruh negatif pada pembelajaran. Sehingga diperlukan alternatif lingkungan
yang memberi kesan gembira, positif dan membangkitkan semangat. Sebuah
lingkungan yang menimbulkan asosiatif positif dan berperasaan dalam setiap
orang, seperti dengan menata tempat duduk secara dinamis, menghiasi ruang
belajar, atau apa yang ada dalam lingkungan belajar yang dapat menambah warna,
keindahan, minat serta rangsangan belajar peserta didik, termasuk dengan
kehangatan musik. Pembelajaran memerlukan gambaran yang jelas tentang tujuan
suatu pelajaran dan apa yang dapat mereka lakukan sebagai hasinya.
Ada garis lurus antara tujuan dan manfaat. Peserta belajar dapat belajar
paling baik jika mereka tahu mengapa mereka belajar dan dapat menghargai bahwa
pembelajaran mereka punya relevansi dan nilai bagi diri mereka secara pribadi.
Oleh karena itu, penting sekali untuk sejak awal menegaskan manfaat belajar
sesuatu agar orang merasa terkait dengan topik pelajaran itu secara positif.
Untuk mempersiapkan orang mendapatkan pengalaman belajar yang optimal,
diperlukan lingkungan kerjasama sejak awal. Kerjasama membantu peserta belajar
mengurangi stres dan lebih banyak memanfaatkan energinya untuk belajar.
Kerjasama antar peserta belajar menciptakan sinergi manusiawi yang memungkinkan
berbagai wawasan, gagasan, dan informasi mengalir bebas.
Hubungan atau interaksi selama pembelajaran dapat dikatakan sebagai inti
kecerdasan. Semakin sering orang saling menghubungkan pengetahuan dan wawasan
mereka, semakin cerdas lah ia. Aktivitas belajar membutuhkan peran serta semua
pihak. Upaya belajar benar-benar bergantung pada peserta belajar, salah satu
tujuan penyiapan peserta belajar adalah mengajaknya memasuki dunia kanak-kanak
mereka, sehingga kemampuan bawaan mereka untuk belajar dapat berkembang sendiri.
Dunia kanak-kanak ditandai dengan keterbukaan, kebebasan, kegembiraan, dan
rasa ingin tahu yang sangat besar. Merangsang rasa ingin tahu peserta belajar
sangat membantu upaya mendorong peserta belajar agar terbuka dan siap belajar.
Pembelajaran akan mandeg jika tidak ada sesuatu yang bisa menimbulkan rasa
ingin tahu. Jika rasa ingin tahu berkembang, maka ini akan membuat individu
kembali hidup dan membuat mereka merasa siap melebihi diri mereka sebelumnya
dan inilah inti pembelajaran yang baik.
2.
Penyampaian (Presentation)
Tahapan penyampaian dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk
mempertemukan peserta belajar dengan materi belajar yang mengawali proses
belajar secara positif dan menarik. Presentasi berarti pertemuan, dimana
fasilitator dapat memimpin, tetapi peserta belajar yang harus menjalani
pertemuan itu. Belajar adalah menciptakan pengetahuan, bukan menelan informasi,
maka presentasi dilakukakn semata-mata untuk mengawali proses belajar dan bukan
untuk dijadikan fokus utama.
Tujuan tahap penyampaian adalah membantu peserta belajar menemukan materi
belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan
panca indra dan cocok untuk semua gaya belajar. Selain itu dapat dilakukan
dengan presentasi interaktif, melalui aneka macam cara yang disesuaikan dengan
seluruh gaya belajar termasuk melalui proyek belajar berdasarkan kemitraan dan
berdasarkan tim, pelatihan menemukan, atau dengan memberikan pengalaman belajar
di dunia nyata yang konstektual serta melalui pelatihan memecahkan masalah.
3.
Latihan (Practice)
Dalam tahap inilah pembelajaran yang sebenarnya berlangsung. Peranan
intruktur atau pendidik hanyalah memprakarsai proses belajar dan menciptakan
suasana yang mendukung kelancaran pelatihan. Dengan kata lain tugas instruktur
atau pendidik adalah menyusun konteks peserta belajar dapat menciptakan isi
yang bermakna mengenai materi belajar yang sedang dibahas.
Peranan instruktur adalah mengajak peserta belajar yang baru dengan cara
yang dapat membantu mereka memadukannya kedalam struktur pengetahuan makna dan
keterampilan internal yang tertanam dalam dirinya.
Tujuan tahap pelatihan adalah membantu peserta belajar mengintegrasikan dan
menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Seperti
aktivitas pemrosesan, permainan dalam belajar, aktivitas pemecahan masalah dan
refleksi dan artikulasi individu, dialog berpasangan atau kelompok, pengajaran
dan tinjauan kolaboratif termasuk aktivitas praktis dalam membangun
keterampilan lainnya.
4.
Penampilan Hasil (Performance)
Belajar adalah proses mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan
menjadi pemahaman, pemahaman menjadi kearifan dan kearifan menjadi tindakan.
Banyak orang mengabaikan tahap ini, padahal ini sangat penting disadari bahwa
tahap ini merupakan satu kesatuan dengan keseluruhan proses belajar. Tujuan
tahap penampilan hasil ini adalah untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap
melekat dan berhasil diterapkan. Setelah mengalami tiga tahap pertama dalam
siklus pembelajaran, kita perlu memastikan bahwa orang melaksanakan pengetahuan
dan keterampilan baru mereka pada pekerjaan mereka, nilai-nilai nyata bagi diri
mereka sendiri, organisasi dan klien organisasi. Tujuan tahap penampilan hasil
adalah membantu peserta belajar menerapkan dan memperluas pengetahuan atau
keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan
penampilan hasil akan terus meningkat seperti; penerapan didunia maya dalam
tempo segera, penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi, dan aktivitas penguatan
penerapan. Artinya, jika keempat unsur tersebut ada, maka pembelajaran dapat
dikatakan berlangsung.
Jika salah satu keempat unsur tersebut tidak ada, maka belajarpun cenderung
merosot atau tehenti sama sekali. Mengenai rintangan ini, banyak orang yang
menyimpan perasaan negatif mengenai belajar tanpa menyadari. Berdasarkan
pengalaman masa lalu, mereka munkin mengaitkan situasi belajar formal dengan
pengurungan, kebosanan, hal-hal yang tidak relevan, rasa takut dipermalukan,
dan stres. Jika rintangan-rintangan ini tidak diatasi, maka belajar cepat dan
efektif akan terhenti sebelum dimulai.
Pembelajaran akan terganggu jika orang tidak diberi cukup waktu untuk
menyerap pengetahuan dan keterampilan baru ke dalam struktur diri mereka saat
itu ke dalam organisasi internal mereka menyangkut makna, kepercayaan dan
keterampilan. Pengetahuan bukan sesuatu yang diserap peserta belajar, tetapi
pengetahuan adalah sesuatu yang diciptakan peserta belajar.
C.
Komponen-komponen Pembelajaran
1.
Pengertian Komponen Pembelajaran
Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran
dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses pembelajaran. Komponen pendidikan
berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil atau tidaknya proses
pendidikan. Bahkan dapat dikatakan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja
pendidikan diperlukan komponen-komponen tersebut.
Kesimpulannya, bahwa komponen pembelajaran adalah kumpulan dari
beberapa item yang merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar.
2.
Komponen-komponen Pembelajaran
a.
Tujuan pendidikan
Tingkah laku manusia, secara sadar atau tidak sadar tentu berarah
pada tujuan begitupun tingkah laku manusia yang bersifat dan bernilai
pendidikan. Setiap lembaga pendidikan memiliki tujuan pendidikan yang telah
dirumuskan sebelumnya. Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan pendidikan
didasari pada ilmu pendidikan yang normatif dan praktis. Sebagai ilmu
pendidikan yang normatif, ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma
atau ukuran tingkah laku perbuatan sebenarnya dilaksanakan oleh manusia.
Sebagai ilmu pengetahuan yang praktis, tugas pendidikan atau pendidik ialah
menanamkan sistem-sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan kepada
dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam
suatu masyarakat.
Nilai-nilai
tujuan dalam pengajaran diantaranya adalah sebagai berikut (Dimyati dkk, 2009):
1)
Tujuan
pendidikan mengarahkan dan membimbing kegiatan pendidik dan peserta didik dalam
proses pengajaran;
2)
Tujuan
pendidikan memberikan motivasi kepada pendidik dan peserta didik;
3)
Tujuan
pendidikan memberikan pedoman dan petunjuk kepada pendidik dalam rangka memilih
dan menentukan metode mengajar atau menyediakan lingkungan belajar bagi peserta
didik;
4)
Tujuan
pendidikan penting maknanya dalam rangka memilih dan menentukan alat peraga
pendidikan yang akan digunakan dan
5)
Tujuan
pendidikan penting dalam menentukan alat/ teknik penilaian pendidik terhadap
hasil beajar peserta didik.
b.
Peserta didik
Siswa atau murid merupakan seseorang yang mengikuti suatu program
pendidikan sekolah atau lembaga pendidikan lainnya, di bawah bimbingan seorang
pendidik atau beberapa guru, jangan menganggap siswa sebagai objek belajar yang tidak tahu apa-apa. Ia
memiliki latar belakang, minat, dan kebutuhan serta kemampuan yang yang
berbeda.
Sehubungan dengan persoalan anak didik di sekolah Amstrong (1981)
mengemukakan beberapa persoalan yang harus dipertimbangkan dalam pendidikan.
peroalan tersebut mencakup apakah latar belakang budaya masyarakat peserta
didik? dan bagaimana penguasaan anak didik disekolah? Berdasarkan persoalan
tersebut perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan individual,
perhatian khusus pada anak yang memiliki
kelainan, dan penanaman sikap dan tanggung jawab pada anak didik.
c.
Guru/pendidik disekolah
Kata guru berasal dari bahasa Sansekerta “guru” yang juga berarti guru, tapi secara
harfiahnya adalah “berat” yaitu seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa
Indonesia, guru umumnya merujuk pada pendidik profesional dengan tugas mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta
didik.
Guru sebagai pendidik disekolah secara langsung maupun tidak
langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat utnuk melaksanakan
pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik dituntut memenuhi
persyaratan-persyaratan baik pribadi maupun jabatan.
Di dalam masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai yang
paling maju, guru memegang peranan penting. Guru merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon
warga masyarakat. Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar (penyamapi
ilmu pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, pengelola
kegiatan pembelajaran yang dapat menfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
d.
Komponen Bahan/Materi
Bahan pelajaran
adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa
bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu,
pendidik yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang
akan disampaikannya pada anak didik. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan
pelajaran ini, yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran
pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang
studi yang dipegang pendidik sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya).
Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang
dapat membuka wawasan seorang pendidik agar dalam mengajar dapat menunjang
penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan penunjang ini biasanya bahan yang
terlepas dari disiplin keilmuan pendidik, tetapi dapat digunakan sebagai
penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. Pemakaian bahan pelajaran
penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran pokok yang dipegang agar
dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua anak didik.
Bahan pelajaran
merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang
bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai olek anak didik. Karena
itu, pendidik khususnya atau pengembang kurikulum umumnya, tidak boleh lupa
harus memikirkan sejauh mana bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabus
berkaitan dengan kebutuhan anak didik pada usia tertentu dan dalam lingkungan
tertentu pula. Minat anak didik akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai
dengan kebutuhan anak didik. Maslow berkeyakinan bahwa minat seseorang akan
muncul bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya (Djamarah, 2010: 44). Jadi,
bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak
didik dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian, bahan pelajaran merupakan
komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan adalah inti
dalam proses beajar mengajar yang akan disampaikan kepada anak didik.
e.
Pendekatan dan
Metode Pembelajaran
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk
pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih
sangat umum, didalamnya mewadahi, menginpirasi, menguatkan, dan melatari metode
pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Dilihat dari pendekatannya,
pendekatan terdapat dua jenis, yaitu: 1). Pendekatan yang berorientasi pada siswa
(student centered approach), 2). Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada
guru (teacher centered approach).
Metode
merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam kegiatan belajar pembelajaran, metode sangat diperlukan oleh
guru dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Untuk dapat mengajar dengan baik seorang guru harus menguasai metode mengajar
yang baik pula. Lima macam faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar,
yaitu:
1)
Tujuan dengan
berbagai jenis dan fungsinya
2)
Anak didik
dengan berbagai tingkat kematangannya
3)
Situasi
berlainan keadaannya
4)
Fasilitas
bervariasi secara kualitas dan kuantitasnya
5)
Kepribadian dan
kompetensi guru yang berbeda-beda.
f.
Media
Pembelajaran
Media merupakan
segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.
Dalam belajar pembelajaran media pembelajaran mempunyai fungsi sebagai
pelengkap untuk mencapai tujuan. Melalui media pengajaran yang tepat,
diharapkan guru dapat memberikan pengalaman belajar yang banyak dengan cara
yang sedikit.
g.
Evaluasi
Pembelajaran
Evalusai
pengajaran merupakan suatu komponen dalam sistem pengajaran, yaitu suatu proses
yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh dalam rangka pengendalian, penjaminan,
dan penetapan kualitas (nilai atau arti) berbagai komponen pembelajaran
berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu sebagai bentuk
pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan pembelajaran. Dapat diartikan pula
bahwa evaluasi itu untuk mengukur atau menilai kemampuan peserta didik, mengukur
keberhasilan pencapaian pembelajaran, dan sebagai tolak ukur ketercapaian
tujuan dari pembelajaran tersebut.
h.
Orang Tua dan Lingkungan Masyarakat
Kedudukan orang tua sebagai pendidik, merupakan pendidik yang
kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua sebagai pendidik utama dan
berlandaskan pada cinta kasih keluarga atau anak yang lahir di lingkungan
keluarga mereka.
Selain orang tua dan guru, pemimpin masyarakat dan pemimpin
masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan
pembinaan atau bimbingan. Pemimpin keagamaan sebagai pendidik, tampak pada
aktifitas kerohanian manusia, dan masyarakat menjadi pendidik bagi peserta
didik dikehidupannya.
BAB III
KESIMPULAN
1.
Konsep belajar menurut guru sangat menentukan keberhasilan proses
pembelajaran. Adapun belajar pada dasarnya adalah suatu proses aktivitas mental
sesorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya sehingga menghasilkan
perubahan tingkah laku yang bersifat positif baik perubahan dalam asfek
pengetahuan, sikap, maupun psikomotorik.
2.
Begitupun konsep pembelajaran akan berpengaruh terhadap proses KBM
di kelas, sedangkan pembelajaran itu sendiri adalah proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan,
serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta. Proses pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik akan mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
3.
Komponen pembelajaran adalah kumpulan dari beberapa item yang
merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar. Adapun item-item tersebut
adalah :
1)
Tujuan Pendidikan
2)
Peserta Didik
3)
Guru/Pendidik
4)
Bahan atau
Materi Pelajaran
5)
Pendekatan dan
Metode
6)
Media
Pembelajaran
7)
Evaluasi
8)
Orang Tua dan Lingkungan Masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, dkk.
2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Syah, Muhibin.
2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Dimyati, dkk.
2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Sanjaya, Wina.
2005. Teori Pembelajaran. Jakarta : Fajar Interpratama Mandiri
Sugandi, Achmad. 2005. Teori Pembelajaran. Semarang: UNNES
Press.
Sumber internet :
Komentar
Posting Komentar